Jump to content

Leaderboard

Popular Content

Showing content with the highest reputation since 01/10/21 in all areas

  1. Pembahasan qada dan qadar bisa Anda jumpai dalam penjelasan kodrat, iradat dan ilmu. Karena qadar merupakan istilah saat Allah menciptakan makhluk, alias sifat kodrat Allah. Sedangkan masalah qada masih ada khilafiyah. Ada yang berpendapat bahwa qada itu adalah iradat Allah. Sebagaian ulama berpendapat, qada adalah ilmu Allah. Yang jelas, iradat dan ilmu keduanya 'azali. Bisa disimpulkan, bahwa qada merupakan sesuatu yang qadim, sadangkan qadar adalah sesuatu yang baru (hadis).
    4 points
  2. Allah azza wa jalla adalah tuhan Yang Maha Esa maka mustahil Allah bersifat banyak (lebih dari satu). Sifat Allah Yang Maha Esa adalah wahdaniyah, kebalikannya Allah mustahil ta'addud. Sedangkan bukti Allah Wahdaniyat pernah saya tulis dalam artikel yang berjudul Tunjukkanlah Bukti Bahwa Allah Maha Esa atau Bersifat Wahdaniyah! Silahkan di baca, ya @Syafiqurrahman!
    4 points
  3. Untuk referensi, saya mengambil dari kitab Ihya'-Ulumiddin dalam bab Qawa'idul-'Aqaid. Imam al-Ghazali mengatakan: وَأَنه تَعَالَى سميع بَصِير يسمع وَيرى لَا يعزب عَن سَمعه مسموع وَإِن خَفِي وَلَا يغيب عَن رُؤْيَته مرئي وَإِن دق وَلَا يحجب سَمعه بُعد وَلَا يدْفع رُؤْيَته ظلام يرى من غير حدقة وأجفان وَيسمع من غير أَصْمِخَة وآذان كَمَا يعلم بِغَيْر قلب ويبطش بِغَيْر جارحة ويخلق بِغَيْر آلَة إِذْ لَا تشبه صِفَاته صِفَات الْخلق كَمَا لَا تشبه ذَاته ذَوَات الْخلق "Allah Maha Mendengar dan Maha Melihat. Allah mendengar dan melihat tanpa satu pun terlepas dari pendengarannya, meski pun sama
    4 points
  4. Allah bisa melihat makhluk terkecil di alam semesta ini karena Allah memiliki sifat bashar (melihat). Dengan begitu, Allah SWT bashiran (Dzat Yang Maha Melihat). Sesuai dengan ayat: لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. asy-Syura [42]:12) Dalam ayat tersebut ditegaskn bahwa Allah tidak serupa dengan apapun. Begitu pula dengan pengelihatannya. Allah melihat tanpa kelopak mata. Karena kalau menggunakan kelopak mata, tidak ada bedanya dengan selain Allah. Be
    4 points
  5. Dari judul tulisan ini, kalian yang tergolong orang pesantren, sudah bisa menebak bahwa yang akan saya sampaikan adalah sabda nabi perihal iri yang diperbolehkan. Hadis tersebut sebagaimana berikut: Jadi, kita boleh hasud kepada dua orang berikut ini: Orang kaya-raya yang mendermakan hartanya. Orang berilmu yang menyelesaikan masalah, serta menyebarkan ilmunya. Namun, bukan sekadar menyampaikan hadis tersebut, saya juga akan menyampaikan maksud hasud (حَسَد) yang ada dalam hadis tersebut. Imam an-Nawawi menyampaikan bahwa maksud hasud dalam hadis tersebut ialah ghib
    2 points
  6. Penelitian yang sementara ini saya temui menyimpulkan bahwa kerajaan Islam pertama di Indonesia ialah Kesultanan Perlak (Aceh), yang sudah ada semenjak abad ke-10 M. Kepemeritahannya berkisar pada tahun 976-1012 M. Masyhurnya, slogan yang disematkan kepada rajanya ialah malik ash-sahalih.
    2 points
  7. Beliau adalah salah satu istri Nabi Muhammad, sebagaimana tercantum dalam nazam Aqidatul-Awam berikut ini:
    2 points
  8. asma Allah? mungkin maksud Anda sifat Allah. Kalau sifat Allah maka Qiyamuhu binafsihi
    2 points
  9. membibmbing umatnya untuk mengetahui Allah
    2 points
  10. Saya memiliki sebuah pertanyaan: bagaimana cara menafsirkan sifat Allah wahdaniyah berdasarkan dalil naqli dan dalil aqli?
    1 point
  11. Allah maha mengetahui segalanya, termasuk bisa melihat makhluk terkecil? Mungkin bisa saudara jelaskan maksudnya
    1 point
  12. setahu saya zahrah artinya bunga. sedangkan jamaknya adalah azhar
    1 point
  13. dalam memaknai ayat muhkam dan mutasyabih, ulama berbeda pendapat. namun pendapat yang paling banyak mengatakan bahwa muhkam adalah ayat yang bisa dipahami maknanya secara zahir. sedangkan mutasyabih adalah ayat yang maknanya samar. pembahasan muhkam dan mutasyabih ini nantinya akan merembet pada pembahasan mujassimah (aliran yang menyerupakan Allah dengan makhluk). sebab mereka menolak dua metode yang resmi diakui oleh Nabi dan para shahabat; tafwid dan takwil. contoh gampangnya ayat mutasyabih adalah :ثُمَّ اسْتَوٰى عَلَى الْعَرْشِ ayat tersebut kalau dipahami pakai paham muja
    1 point
  14. Ada sebuah hadis berkaitan dengan lahaula wala quwata illa billahil aliyil adzim. Hadis tersebut diceritakan oleh sahabat Nabi Muhammad Abu Musa al-Asy'ari. Bunyi hadisnya sebagaimana berikut:
    1 point
  15. Kali ini saya akan membahas perihal hal-ihwal yang membatalkan puasa. Kabanyakan masyarakat suadah tahu, bahwa makan-minum tergolong hal-hal yang membatalkan puasa. Namun, banyak yang tidak mengetahui perkara yang membatalkan puasa selain makan dan munum. Berikut perkara yang membatalkan puasa: Mulut, telinga, hiduang dan lubang yang lain kemasukan sesautu. Meski pun bukan makan dan minum. Seperti, kemasukan air ketika berenang. Sengaja muntah. Mengeluarkan mani dengan sengaja, seperti onani dls. Haid dan nifas Gila Keluar dari Islam Jika melakukan
    1 point
  16. Lahaula wala quwata illa billahil aliyil adzim artinya adalah tiada zat yang mampu memalingkan dari maksiat dan yang menguatkan untuk melakukan ibadah (ketaatan) kecuali Allah Zat Yang Mahaluhur dan Mahamulia. Pengertian semacam ini saya dapatkan dalam kitab Durrul-Mantsur (5/393), adikarya Imam as-Suyuthi. 'Ibarat-nya sebagaimana berikut:
    1 point
  17. Saya ingin bertanya, apakah kalender hijriyah dapat digunakan untuk menentukan bulan purnama?
    1 point
  18. Hijriyah terkenal dengan istilah qamariyah (rembulan). Karena mememang penentuannya menggunakan perputaran rembulan. Berbeda dengan kalender Masehi, yang terkenal dengan sebutan syamsiyah (matahari). Karena memang mengikuti perputaran matahari. Nah, dari sini jelas, bahwa karena Hijriyah mengikuti keadaan bulan, maka dapat dipastikan bahwa saat bulan hijriyah menunjukkan angka 15, maka rembulan dalam keadaan purnama. Mengapa demikian? Klik di sini!
    1 point
  19. Alhasil, selama budaya baik dan budaya tersebut bukanlah icon dari kekafiran, maka tidak masalah
    1 point
  20. Jika yang Anda maksud adalah akulturasi budaya, Anda dapat membaca dua postingan ini: Konsep Tasyabuh dalam Islam Akulturasi Budaya
    1 point
  21. Ateisme dilarang tumbuh dan berkembang di Indonesia karena Indonesia merupakan negara ketuhanan (sila pertama Pancasila). Sedangkan ateisme tidak berketuhanan. Sangat tidak cocok dengan ketuhanan.
    1 point
  22. Jika yang dimaksud adalah Syekh Abdulqadir al-Jilani, adalah yang wafat sekitar tahun 1166 M, dan Imam as-Sanusi yang wafat pada 1490 M, maka tidak nyambung. Karena keduanya ada pada tahun yang sangat berjauhan.
    1 point
  23. Kita, kan, sering mendengar kalo Allah itu tidak butuh kepada yang lain. Itu sebenarnya Allah tidak membutuhkan makhluk lain merupakan maksud dari asma Allah yang mana dari asmaul husna?
    1 point
  24. Bila yang dimaksud adalah sifat, maka jawabannya Qiyamu-Hu bi Nafsihi. Namun, jika yang ditanyakan adalah nama Allah, maka masuk kepada samaul husna الغَنِيُّ (al-Ghany/Mahakaya). Karena kata kaya memang patut disematkan kepada yang tidak membutuhkan. Jadi, Allah Mahakaya, berarti Allah tidak butuh kepada selain-Nya.
    1 point
  25. Saya pernah membahas dalil aqli dari sifat wahdaniyat di situs Mustaqim.NET. Judulnya: Tunjukkanlah Bukti Bahwa Allah Maha Esa atau Bersifat Wahdaniyah! Anda bisa membaca artikel tersebut lebih dahulu. Ntar kalau masih ada pertanyaan, silahkan tanyakan kembali!
    1 point
  26. makanya Nabi bersabda: Tafakkaru fi kholqillah wala tatafakkaru fi dzatillah (Berpikirlah tentang makhluk Allah. dan jangan memikirkan dzat Allah)
    1 point
  27. kata Imam al-Ghazali dalam Ihya' Ulumuddin, dalam Haqqul-Adam (Hak manusia), semisal menggibah, maka syarat penghapusan dosa pertama adalah meminta maaf terhadap orang uang di zalimi
    1 point
  28. Pertanyaan ini mirip sekali dengan yang pernah ditanyakan kepada Imam as-Samarqandi. Dalam Durratun Nashihin (hlm. 47) disebutkan: سئل الامام الفقيه ابو اللية السمرقندي عن الوالدين إذا ماتا ساخطين على الولد هل يمكن ان يرضيهما بعد وفاتهما؟ Imam yang berkompeten dalam bidang fikih, yakni Abu Laila as-Samarqandi pernah ditanya perihal orangtua. Pertanyaannya begini, "Bila orangtua meninggal, sedangkan anaknya durhaka, bisakah mendapat rida orangtua setelah kematiannya?" قيل يمكن بثلاثة اشياء: Beliau menjawab, "Bisa, dengan tiga cara," yaitu: اولها ان يكون صالحا..
    1 point


×
×
  • Create New...