Jump to content

Miromly

Members
  • Content Count

    6
  • Joined

  • Last visited

Community Reputation

0 Neutral

5 Followers

Recent Profile Visitors

The recent visitors block is disabled and is not being shown to other users.

  1. Pertanyaan ini mirip sekali dengan yang pernah ditanyakan kepada Imam as-Samarqandi. Dalam Durratun Nashihin (hlm. 47) disebutkan: سئل الامام الفقيه ابو اللية السمرقندي عن الوالدين إذا ماتا ساخطين على الولد هل يمكن ان يرضيهما بعد وفاتهما؟ Imam yang berkompeten dalam bidang fikih, yakni Abu Laila as-Samarqandi pernah ditanya perihal orangtua. Pertanyaannya begini, "Bila orangtua meninggal, sedangkan anaknya durhaka, bisakah mendapat rida orangtua setelah kematiannya?" قيل يمكن بثلاثة اشياء: Beliau menjawab, "Bisa, dengan tiga cara," yaitu: اولها ان يكون صالحا..
  2. Perlu diketahui, bahwa wewangian itu disenangi malaikat, sedangkan setan bila menciumnya akan lari terbirit-birit. Mengapa demikian? Karena kecenderungan pada wewangian atau menghindarinya sudah mendarah-daging dalam setiap jiwa. Bila berjiwa baik, pasti menyukai wewangian. Bila berjiwa buruk, pasti menyukai bau busuk. Dalam Faidhul-Qadir (III/395) dijelaskan: (وأن يمس من طيب أهله) أي حلائله (إن كان) متيسرا لأن الملائكة تحبه والشيطان ينفر منه وأحب شيء إليه الريح المنتن والكريه فالأرواح الطيبة تحب الريح الطيب والخبيثة الخبيث وكل روح تميل إلى ما يناسبها
  3. Imam an-Nawawi dalam Majmu' Syarhil-Muhadzab (II/177) menjelaskan sebuah hadis yang berbunyi: كان رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم إذا صلَّى الفجرَ جلَس في مُصلَّاه حتَّى تطلُعَ الشَّمسُ وكانوا يجلِسونَ فيتحدَّثونَ ويأخُذونَ في أمرِ الجاهليَّةِ فيضحَكونَ ويتبسَّمُ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم "Rasulullah saw tidak beranjak dari tempat shalatnya hingga matahari terbit, yang mana ia shalat subuh di tempat tersebut. Tatkala matahari telah terbit, barulah ia berdiri. Jabir berkata: para sahabat bercakap-cakap membicarakan mengenai jahiliyah kemudian mereka tertawa, sedangkan Nabi Muhammad t
  4. Dalam kasus dosa Nabi Adam dengan dosa Iblis, Allah sangat obyektif dalam menentukan siapa yang dimaafkan. Karena antara kasus Nabi Adam dan kasus Iblis tidak sama. Dalam kasus Nabi Adam: Beliau mengakui dirinya berbuat dosa Menyesali perbuatannya Menyalahkan dirinya Segera bertobat Tidak putus asa mengharap rahmat Allah Sedangkan Iblis: Dia tidak mengaku Tidak menyesal Tidak mencela dirinya Tidak segera bertobat Putus asa dari rahmat Allah Ini sebagaimana diterangkan dalam kitab Tanbihul-Ghafilin (hlm. 179), lengkapnya
  5. Imam as-Sanusi dalam kitab yang sama (hal. 34), juga memerinci satu-persatu dari thalab, ibahah, dan wadha'. Berikut penjelasannya: Yang tergolong thalab ada empat: Wajib: wajib adalah perintah untuk mengerjakan sesuatu dengan perintah yang jazim. Misalnya, lima rukun Islam, meliputi, syahadat, salat, zakat, puasa, dan haji. Sunah: sunah adalah perintah untuk mengerjakan sesuatu dengan perintah yang tidak jazim. Misalnya, salat sunah fajar. Haram: haram adalah larangan mengerjakan sesuatu dengan larangan yang jazim. Misalnya, menyekutukan Allah. Makruh: makruh ada
  6. Dalam Syarah Ummul-Barahin (hal. 33) Imam as-Sanusi saat menyampaikan macam-macam hukum, beliau menjelaskan bahwa hukum syariat adalah khithab Allah yang berkaitan dengan pekerjaan orang mukalaf. Khithab itu ada kala berupa thalab, ibahah, dan wadha'. Jadi, bila ada yang mengatakan bahwa syariat merupakan aturan Allah yang mengatur tingkah laku orang muklaf, maka, ya, sah-sah saja.
×
×
  • Create New...